KLASIFIKASI ATR

 

 
 
2. Klasifikasi Tunarungu
a. Berdasarkan tingkat kerusakan/ kehilangan kemampuan mendengar percakapan/ bicara orang digolongkan dalam 5 kelompok, yaitu
  1. Sangat ringan 27 – 40 dB
  2. Ringan 41 – 55 dB
  3. Sedang 56 – 70 dB
  4. Berat 71 – 90 dB
  5. Ekstrim 91 dB ke atas Tuli
b. Ketunarunguan berdasarkan tempat terjadinya kerusakan, dapat dibedakan atas
  1. Kerusakan pada bagian telinga luar dan tengah, sehingga menghambat bunyi-bunyian yang akan masuk ke dalam telinga disebut tuli konduktif.
  2. Kerusakan telinga bagian dalam dan hubungan ke saraf otak yang menyebabkan tuli sensoris
 
3. Karakteristik Ketunarunguan
Kognisi anak tunarungu antara lain adalah sebagai berikut:
  1. Kemampuan verbal (verbal IQ) anak tunarungu lebih rendah dibandingkan kemampuan verbal anak mendengar.
  2. Namun performance IQ anak tunarungu sama dengan anak mendengar.
  3. Daya ingat jangka pendek anak tunarungu lebih rendah daripada anak mendengar terutama pada informasi yang bersifat suksesif/ berurutan.
  4. Namun pada informasi serempak antara anak tunarungu dan anak mendengar tidak ada perbedaan.
  5. Daya ingat jangka panjang hampir tak ada perbedaan, walaupun prestasi akhir biasanya tetap lebih rendah.

 Kegiatan Binawicara ATR di SLBN-1 MuaraTeweh

 

4. Lingkup Pengembangan Program Pendidikan bagi individu Tunarungu

  1. TKLB/ TKKh Tunarungu Tingkat Rendah : ditekankan pada pengembangan kemampuan senso-motorik, berbahasa dan kemampuan berkomunikasi khususnya berbicara dan berbahasa.
  2. SDLB/ SDKh Tunarungu kelas tinggi ditekankan pada keterampilan senso-motorik, keterampilan berkomunikasi kemudian pengembangan kemampuan dasar di bidang akademik dan keterampilan sosial.
  3. SLTPLB/ SMPKh Tunarungu ditekankan pada peningkatan keterampilan berkomunikasi dan keterampilan senso-motorik, keterampilan berkomunikasi dan keterampilan mengaplikasikan kemampuan dasar di bidang akademik dalam pemecahan masalah kehidupan sehari-hari, peningkatan keterampilan sosial dan dasar-dasar keterampilan vokasional.
  4. SMLB/ SMAKh Tunarungu ditekankan pada pematangan keterampilan berkomunikasi, keterampilan menerapkan kemampuan dasar di bidang akademik yang mengerucut pada pengembangan kemampuan vokasional yang berguna sebagai pemenuhan kebutuhan hidup, dengan tidak menutup kemungkinan mempersiapkan siswa tunarungu melanjutkan pendidikannya kejenjang yang lebih tinggi.